cara membuat asap cair – Asap cair dari batok kelapa merupakan suatu produk yang memanfaatkan batok kelapa sebagai bahan baku utama dalam pembuatan asap cair. Asap cair dari batok kelapa sendiri memiliki beberapa manfaat dan keuntungan tersendiri di banding dengan menggunakan bahan baku lainnya.

Dimana batok kelapa merupakan bahan baku yang sangat mudah didapatkan dan tentunya murah. Di Indonesia sendiri batok kelapa masih dianggap limbah yang hanya digunakan sebagai bahan bakar.

Pengertian Batok Kelapa

Tanaman  kelapa merupakan tanaman yang mempunyai berbagai manfaat dan kegunaan, tidak jarang masyarakat Indonesia memanfaatkan tanaman pohon kelapa untuk kehidupan sehari hari, baik dari daun, buah, maupun batang, namun ada satu bagian dari pohon kelapa yang selama ini jarang dimanfaatkan menjadi produk bernilai inggi, Yakni bagian batok buah kelapa.

Batok buah kelapa merupakan bagian dari pohon kelapa yang berfungsi melindungi inti buah kelapa, Batok buah kelapa terletak pada bagian dalam buah antara serabut dan daging buah dan merupakan bagian yang keras dengan ketebalan sekitar 3-5 mm. Batok buah kelapa dapat dikategorikan dalam golongan kayu keras dengan kadar air yang tersusun dari lignin, selulosa dan hemiselulosa.

batok

Pengertian Asap Cair

Asap Cair merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan, dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan yang banyak mengandung karbon dan senyawa senyawa lainnya. Asap cair hasil pirolisis ini tergantung pada bahan dasar dan suhu pirolisis ketika pembuatan.  Pirolisis batok kelapa menghasilkan asap cair dengan kandungan senyawa fenol sebesar 4,13 %, karbonil 11,3 % dan asam 10,2 %.

Keuntungan Dari Asap Cair

Keuntungan dari penggunaan asap cair antara lain lebih intensif dalam pemberian citarasa, lebih mudah dalam mengontrol hilangnya citarasa, pengaplikasiaannya dapat dilakukan di berbagai jenis bahan pangan, lebih hemat dalam bahan baku sebagai bahan asap. 

Polusi lingkungan yang dihasilkan dapat diperkecil dan asap cair ini dapat diaplikasikan ke dalam bahan dengan berbagai cara seperti penyemprotan, pencelupan, atau langsung dicampur ke dalam makanan.

1. Keamanan Produk

Penggunaan asap cair yang diproses secara baik dan tepat dapat mengeliminasi komponen asap berbahaya yang berupa hidrokarbon polisiklis aromatis. Komponen ini tidak dibutuhkan karena beberapa di antaranya terbukti bersifat karsinogen pada dosis tinggi.

Melalui pembakaran yang terkontrol, aging, dan teknik pengolahan yang semakin baik, tar dan fraksi minyak berat dapat dipisahkan, sehingga produk asapan yang dihasilkan mampu mendekati bebas HPA (Pszczola dalam Astuti, 2000).

2. Aktivitas Antioksidan

Adanya senyawa fenol dalam asap cair dapat memberikan sifat antioksidan terhadap fraksi minyak dalam produk asapan. Dimana senyawa fenolat ini  berperan sebagai donor hidrogen dan efektif dalam jumlah sangat kecil untuk menghambat autooksidasi lemak (Astuti, 2000).

3. Aktivitas Antibakterial

Peran bakteriostatik pada asap cair semula hanya disebabkan karena adanya aktifitas formaldehid saja, tetapi aktivitas dari senyawa ini saja tidaklah cukup sebagai penyebab semua efek yang diamati.

Kombinasi antara komponen fungsional fenol dan asam asam organik yang bekerja secara sinergis dapat mencegah dan mengontrol pertumbuhan mikrobia (Pszczola dalam Astuti, 2000). Adanya fenol dengan titik didih tinggi dalam asap cair juga merupakan zat antibakteri yang tinggi (Astuti, 2000).

4. Potensi pembentukan warna coklat

Menurut Ruiter (1979) karbonil mempunyai efek terbesar dalam proses terjadinya pembentukan warna coklat pada produk asapan. Adapun jenis komponen karbonil yang paling berperan dalam pembentukan warna coklat adalah aldehid glioksal dan metal glioksal, sedangkan formaldehid dan hidroksiasetol memberikan peranan yang rendah.

Fenol juga memberikan kontribusi pada pembentukan warna coklat pada produk yang diasap meskipun intensitasnya tidak sebesar komponen karbonil.

5. Kemudahan dan variasi penggunaan

Asap cair bisa digunakan dalam bentuk cair, dalam fasa pelarut minyak dan dalam bentuk serbuk sehingga memungkinkan penggunaan asap cair yang lebih luas dan mudah pengapikasiannya untuk berbagai produk (Pszczola dalam Astuti, 2000).

Manfaat Asap Cair Dari Batok Kelapa

1. Industri Pangan

Asap cair memiliki kegunaan atau manfaat yang sangat besar sebagai pemberi rasa dan aroma yang spesifik, juga berperan sebagai pengawet karena sifat antimikroba dan antioksidannya.

Dengan adanya asap cair maka proses pengasapan tradisional dengan menggunakan asap secara langsung yang mempunyai banyak kelemahan seperti pencemaran lingkungan, proses yang susah dalam pengendalian dan kualitas yang tidak konsisten serta kemungkinan timbulnya bahaya kebakaran, yang semuanya tersebut dapat dihindari.

Asap cair mempunyai kemampuan dalam mengawetkan makanan karena adanya senyawa asam, fenol dan karbonil. Pengasapan secara konvensinal seperti mutu, citra rasa dan aroma yang konsisten sulit dicapai, senyawa tar terdeposit dan apabila suhunya terlalu tinggi akan terbentuk senyawa korsinogrenik benzopiren.

Pada penggunaan asap cair fungsi yang diharapkan dari pengunaan asap seperti citra rasa, warna, anti oksidan dan anti mikrobia dapat dipertahankan sedangkan kelemahan pengasapan konvensional dapat diatasi.

2. Industri Perkebunan Karet

Asap cair dapat digunakan sebagai koagulan lateks dengan sifat fungsional asap cair atau sebagai pengganti asam formiat, antijamur, antibakteri ( Liquid Smoke Grade 3 ).

3. Industri Kayu

Selain itu asap cair juga dapat digunakan sebagai pengawet kayu, yaitu sebagai lapisan luarnya kayu, kayu yang diolesi dengan menggunakan asap cair mempunyai ketahanan terhadap serangan rayap yang lebih baik dari pada kayu yang tanpa diolesi asap cair.

Jenis Asap Cair Dibedakan Berdasarkan Gradenya. Ada 3 Grade Atau Tingkatan Asap Cair Dengan Penggunaan Yang Berbeda:

grade asap cair

1. Grade 1 :

  • Warna bening.
  • Rasa sedikit asam.
  • memiliki aroma Netral.
  • Digunakan untuk makanan.

2. Grade 2 :

  • Warna kecoklatan transparan.
  • Rasa asam sedang.
  • Aroma asap lemah.
  • Digunakan untuk makanan dengan taste asap seperti: daging asap, bakso, mie, tahu, ikan kering, telur asap, bumbu bumbu barbaque, Ikan asap atau bandeng asap.

3. Grade 3 :

  • Warna coklat gelap.
  • Rasa asam kuat.
  • Aroma asap Kuat.
  • Digunakan untuk penggumpal karet pengganti asam semut, penyamakan Kulit, pengganti Antiseptik untuk kain, sebagai penghilang jamur dan mengurangi bakteri patogen yang terdapat di kolam ikan.

Komponen Komponen Penyusun Asap Cair:

1. Senyawa Fenol

Kandungan senyawa fenol dalam asap cair sangat tergantung pada temperatur pirolisis. Kuantitas fenol pada kayu sangat bervariasi antara 10-200 mg/kg. Jenis fenol yang biasanya terdapat dalam produk asapan adalah guaiakol, dan siringol (Girard, 1992).

Senyawa fenol yang terdapat dalam asap cair umumnya adalah hidrokarbon aromatik yang tersusun dari cincin benzena dengan sejumlah gugus hidroksil yang terikat. Senyawa fenol ini dapat juga mengikat gugus gugus lainnya seperti aldehid, keton, asam dan ester (Maga, 1987).

2. Senyawa Karbonil

Senyawa karbonil dalam asap cair memiliki peranan dalam pewarnaan dan citarasa produk asapan. Golongan senyawa ini mepunyai aroma yang unik seperti aroma karame. Jenis senyawa karbonil yang terkandung dalam asap cair antara lain adalah vanilin dan siringaldehida.

3. Senyawa Asam

Senyawa asam mempunyai peran sebagai antibakteri dan membentuk citarasa produk asapan. Senyawa asam dalam asap cair antara lain adalah asam asetat, propionat, butirat dan valerat.

4. Senyawa Hidrokarbon Polisiklis Aromatis

Senyawa hidrokarbon polisiklis aromatis (HPA) terbentuk ketika proses pirolisis. Pembentukan berbagai senyawa HPA selama pembuatan asap cair tergantung dari beberapa hal. Seperti temperatur pirolisis, waktu dan kelembaban udara pada proses pembuatan asap serta kandungan udara dalam batok kelapa. (Girard, 1992)

Proses yang menyebabkan terpisahnya partikel partikel besar dari asap akan menurunkan kadar benzopirena. Proses tersebut antara lain adalah pengendapan dan penyaringan.

5. Senyawa Benzopirena

Benzopirena mempunyai titik didih 310 C, benzopirena dapat menyebabkan kanker kulit jika dioleskan secara langsung pada permukaan kulit. Namun proses yang terjadi memerlukan waktu yang lama (Winaprilani, 2003).

Cara Membuat Asap Cair Dari Batok Kelapa

1. Bahan Baku

Bahan baku untuk pembuatan asap cair bisa apapun yang termasuk bahan organik yang mempunyai selulosa, tetapi saat ini yang lazim digunakan sebagai bahan baku untuk asap cair adalah batok kelapa. Hal tersebut karena pohon kelapa mudah didapatkan serta penyebarannya yang merata di seluruh Indonesia.

2. Peralatan

  • Wadah Pengarangan, ruang pembakaran, penampung tar atau asap cair, destilator dapat dibuat dari bahan stainless steel atau drum besi yang dimodifikasi.
  • Pipa besi yang dimodifikasi.
  • Alat pemanas dapat berupa blower atau dapat menggunakan sekam atau arang.
  • Pipa PVC (jumlah dan ukuran disesuaikan).
  • Pompa air.
  • Tangki air.

3. Proses

Cara Pembuatan Pirolisis Asap Cair Batok Kelapa dilakukan dengan teknik destilasi kering/pirolisis. Sebelum dimasukkan ke reaktor pirolisis, terlebih dahulu batok kelapa dibersihkan dari kotoran dan sabut yang masih tertinggal. Kemudian batok kelapa dipecah menjadi beberapa bagian agar luas permukaan pembakaran menjadi lebih luas sehingga proses dapat berjalan lebih cepat.

Selanjutnya dilakukan pengeringan dengan cara penjemuran dibawah terik matahari maupun dengan alat pengering, untuk mengurangi kadar air pada batok kelapa.

Dilanjutkan dengan metode Pirolisis yang merupakan proses reaksi penguraian senyawa senyawa penyusun kayu keras untuk menjadi beberapa senyawa organik melalui reaksi pembakaran kering tanpa oksigen. Reaksi ini berlangsung pada reaktor pirolisator yang bekerja pada temperatur 300-650 C selama 8 jam proses pembakaran.

mesin pembua asap cair

Asap hasil pembakaran dikondensasi dengan alat kondensor yang berupa koil melingkar, hasil dari proses pirolisis diperoleh tiga produk yaitu asap cair, tar, dan arang. Kondensasi dilakukan dengan menggunakan koil melingkar yang dipasang dalam bak pendingin. Air pendingin dapat diperoleh dari air hujan yang ditampung dalam bak penampungan, air sumur, air sungai maupun PDAM.

Proses Pemurnian Asap Cair untuk mendapatkan asap cair yang sudah tidak mengandung bahan berbahaya sehingga aman bagi bahan pengawet makanan.

Asap cair yang diperoleh dari kondensasi asap pada proses pirolisis diendapkan kurang lebih selama seminggu, kemudian cairannya diambil dan dimasukkan ke dalam alat destilasi. Suhu destilasi harus berkisar di antara 150 C, kemudian hasil dari destilat ditampung. Destilat yang sudah jadi ini masih belum bisa digunakan untuk pengawet makanan karena ada lagi proses lain yang harus dilewati.

Proses Filtrasi Destilat dengan Zeolit Aktif ditujukan untuk mendapatkan zat aktif yang sudah benar benar aman dari zat berbahaya. Caranya, zat destilat asap cair dialirkan ke dalam kolom zeolit aktif dan diperoleh filtrat asap cair yang aman dari bahan berbahaya dan sudah siap dipakai untuk pengawet makanan non karsinogenik.

proses asap cair

Proses Filtrasi

Proses Filtrasi Filtrat Zeolit Aktif dengan Karbon Aktif. Proses filtrasi filtrat zeolit aktif dengan karbon aktif dimaksudkan untuk mendapatkan filtrat asap cair dengan bau asap yang sudah ringan dan tidak menyengat.

Caranya, filtrat dari filtrasi zeolit aktif itu dialirkan ke dalam kolom yang berisi karbon aktif sehingga filtrat yang diperoleh berupa asap cair dengan bau asap yang sudah ringan dan tak menyengat. Dengan demikian maka sempurnalah asap cair sebagai bahan pengawet makanan yang aman, efektif dan alami.